Umum

Alasan mengapa negara religius biasanya terbelakang. Apa salah agama?

I Made Ariana23 Agustus 202652 kali dilihat
Alasan mengapa negara religius biasanya terbelakang. Apa salah agama?
Isi Berita
Malang, kmhdimalang.org —

Pada tahun 2024, majalah CEOWORLD merilis survei mengenai tingkat religiusitas masyarakat di berbagai negara. Survei tersebut menempatkan sejumlah negara seperti Somalia, Niger, Bangladesh, Ethiopia, dan Indonesia sebagai negara dengan persentase masyarakat yang sangat tinggi dalam mengidentifikasi dirinya sebagai religius.

Menariknya, sebagian besar negara tersebut masih menghadapi persoalan ekonomi dan pembangunan yang cukup serius.

Namun, sebelum menarik kesimpulan terlalu jauh, ada satu hal yang perlu dipahami.

Korelasi tidak selalu berarti sebab-akibat.

Tingginya tingkat religiusitas suatu masyarakat tidak serta-merta menyebabkan rendahnya pendapatan per kapita. Begitu juga sebaliknya. Ada banyak faktor lain yang memengaruhi perkembangan sebuah negara, mulai dari kualitas institusi, pendidikan, stabilitas politik, sejarah kolonialisme, kondisi geografis, hingga kebijakan ekonomi.

Meski demikian, fenomena ini tetap menarik untuk direnungkan.

Mengapa negara-negara dengan tingkat religiusitas yang tinggi tidak selalu memiliki tingkat pembangunan ekonomi yang tinggi?

Sebaliknya, beberapa negara dengan tingkat religiusitas yang relatif rendah, seperti negara-negara Skandinavia, Jepang, dan sejumlah negara di Eropa, justru memiliki kualitas pendidikan, infrastruktur, inovasi, dan pendapatan per kapita yang tinggi.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi:

Apakah agama menghambat kemajuan peradaban?

Melainkan:

Mengapa nilai-nilai agama tidak selalu berhasil diterjemahkan menjadi perilaku sosial yang produktif dan konstruktif?

Menurut saya, di sinilah persoalan utamanya.

Agama dan Peradaban

Secara historis, agama dan sistem kepercayaan justru memiliki peran besar dalam perkembangan peradaban manusia.

Agama tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Agama juga membentuk sistem nilai, etika, norma sosial, pendidikan, bahkan struktur politik dan ekonomi.

Banyak peradaban besar lahir dan berkembang melalui sistem nilai yang kuat.

Peradaban Hindu dan Buddha memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan dan kerajaan di Asia. Nilai Bushido ikut membentuk karakter sosial dan etos kedisiplinan dalam sejarah Jepang. Sementara itu, perubahan cara berpikir yang terjadi di Eropa setelah Renaissance ikut membuka jalan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan Revolusi Industri.

Artinya, secara historis, sistem kepercayaan tidak selalu menjadi penghambat kemajuan.

Dalam banyak kasus, justru nilai yang dianut oleh masyarakat dapat menjadi fondasi bagi perkembangan peradaban.

Masalahnya muncul ketika agama hanya berhenti sebagai identitas.

Ketika Agama Berhenti Menjadi Nilai

Seseorang dapat mengaku religius.

Seseorang dapat menjalankan ritual.

Seseorang dapat menggunakan simbol-simbol keagamaan.

Namun, semua itu belum tentu menghasilkan perilaku yang mencerminkan nilai agama.

Di sinilah terdapat perbedaan antara religiusitas sebagai identitas dan religiusitas sebagai praktik sosial.

Seseorang mungkin merasa dirinya sangat religius karena rajin melakukan ritual. Namun, pertanyaannya adalah:

Apakah ia jujur?

Apakah ia bertanggung jawab?

Apakah ia menghargai manusia lain?

Apakah ia menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk memberikan manfaat?

Atau jangan-jangan agama hanya menjadi identitas yang membuat seseorang merasa sudah cukup baik tanpa perlu melakukan perubahan nyata?

Fenomena inilah yang menurut saya perlu menjadi perhatian.

Kita sering melihat orang-orang yang mengatasnamakan Tuhan, agama, atau moralitas, tetapi perilakunya justru bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

Kita juga tidak asing dengan berbagai kasus kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan pelanggaran moral yang terjadi di institusi yang seharusnya menjadi tempat pendidikan nilai.

Karena itu, persoalannya mungkin bukan terletak pada kurangnya agama.

Persoalannya bisa jadi terletak pada kegagalan menginternalisasi nilai agama ke dalam perilaku sehari-hari.

Perspektif Kaliyuga

Dalam konsep Hindu, kondisi kemerosotan moral seperti ini dapat dikaitkan dengan konsep Kaliyuga.

Kaliyuga sering dipahami sebagai zaman ketika nilai Dharma mengalami kemerosotan. Manusia semakin sulit membedakan antara kebenaran dan kepentingan pribadi. Simbol sering kali lebih dihargai daripada substansi.

Dalam konteks modern, fenomena ini bisa kita lihat ketika seseorang lebih sibuk menunjukkan identitas keagamaannya daripada membuktikan nilai tersebut melalui tindakan.

Kita bangga dengan sejarah agama dan peradaban masa lalu, tetapi belum tentu mampu menciptakan kontribusi yang relevan pada masa sekarang.

Kita bangga dengan kerajaan besar.

Bangga dengan leluhur.

Bangga dengan kejayaan peradaban masa lalu.

Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang sudah kita hasilkan hari ini?

Sejarah memang penting.

Namun, sejarah seharusnya menjadi sumber pembelajaran, bukan tempat untuk terus mencari kebanggaan.

Kalau kita terlalu sibuk membanggakan kejayaan masa lalu, mungkin kita perlu bertanya apakah kita sudah cukup menghasilkan sesuatu yang layak dibanggakan di masa sekarang.

Ritual Tidak Selalu Sama dengan Implementasi

Hal lain yang perlu kita refleksikan adalah kecenderungan untuk terlalu fokus pada simbol dan ritual.

Ritual memiliki fungsi penting dalam agama.

Ia membangun identitas, disiplin, dan hubungan spiritual.

Namun, ritual tidak seharusnya berhenti pada ritual itu sendiri.

Sering melakukan sembahyang tidak otomatis membuat seseorang lebih jujur.

Mengikuti banyak kegiatan keagamaan tidak otomatis membuat seseorang lebih peduli terhadap masyarakat.

Menggunakan simbol agama juga tidak otomatis membuat seseorang memiliki moralitas yang lebih baik.

Nilai agama baru memiliki makna sosial ketika diterjemahkan menjadi tindakan.

Ketika seseorang menjadi lebih disiplin.

Lebih bertanggung jawab.

Lebih jujur.

Lebih produktif.

Lebih peduli terhadap manusia lain.

Dan mampu memberikan manfaat melalui bidang yang dikuasainya.

Kontribusi sebagai Bentuk Praktik Nilai

Mungkin kita perlu mulai mengubah cara pandang tentang keberagamaan.

Agama bukan hanya tentang seberapa sering kita datang ke tempat ibadah.

Tetapi juga tentang apa yang kita lakukan setelah keluar dari tempat ibadah.

Jika seseorang adalah guru, bagaimana ia mendidik?

Jika seseorang adalah pengusaha, bagaimana ia menciptakan lapangan kerja?

Jika seseorang adalah programmer, teknologi apa yang bisa ia bangun untuk menyelesaikan masalah?

Jika seseorang adalah dokter, bagaimana ia meningkatkan kualitas hidup masyarakat?

Setiap orang memiliki bidangnya masing-masing.

Karena itu, kontribusi terhadap masyarakat tidak harus selalu dalam bentuk yang sama.

Yang terpenting adalah bagaimana kemampuan yang kita miliki dapat menghasilkan manfaat bagi orang lain.

Sebuah Pertanyaan untuk Kita yang Merasa Religius

Bayangkan sebuah eksperimen pemikiran sederhana.

Bayangkan kamu adalah Dewa Yama, hakim yang menentukan konsekuensi moral manusia setelah kematian.

Kemudian kamu bertemu dua orang.

Orang pertama sangat rajin sembahyang ke pura dan menjalankan berbagai ritual keagamaan. Namun, sepanjang hidupnya, ia tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat dan bahkan tidak berusaha menggunakan kemampuannya untuk membantu orang lain.

Orang kedua tidak memiliki identitas agama. Namun, sepanjang hidupnya ia menciptakan sebuah teknologi yang membuka jutaan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kualitas hidup banyak orang.

Jika kamu harus menilai keduanya berdasarkan dampak hidup yang mereka berikan kepada manusia lain, siapa yang menurutmu memiliki nilai moral yang lebih tinggi?

Saya rasa banyak orang akan memberikan jawaban yang serupa.

Tentu saja, pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menentukan siapa yang masuk surga atau neraka.

Tidak ada manusia yang memiliki otoritas untuk menentukan hal tersebut.

Pertanyaan ini hanya sebuah refleksi.

Jika kita percaya bahwa agama mengajarkan kebaikan, maka seharusnya keberagamaan tidak berhenti pada pengakuan, simbol, dan ritual.

Ia harus terlihat dalam tindakan.

Dalam tanggung jawab.

Dalam karya.

Dalam kontribusi.

Dan dalam manfaat yang kita berikan kepada manusia lain.

Karena mungkin persoalan terbesar kita hari ini bukan karena manusia kehilangan agama.

Tetapi karena kita terlalu sering merasa religius tanpa benar-benar bertanya:

Apakah keberadaan saya sudah memberikan manfaat bagi orang lain?

Kalau jawabannya belum, mungkin kita sudah tahu apa yang perlu mulai kita lakukan.

Kategori :

Umum

Bagikan: